Menumbuhkan Potensi Disiplin Anak (Rangkuman Seminar Parenting oleh Ibu Najeela Shihab)

Pada 15 September lalu bertempat di The White Clover, Bandung berlangsung acara Seminar Parenting dengan judul Membangun Kemandirian dan Menumbuhkan Kompetensi Anak yang dibawakan oleh Ibu Najeela Shihab.

IMG-20170908-WA0000

Bersyukur saya bisa mendapatkan tempat duduk dan mendengarkan seminar beliau. Dalam kesempatan kali ini, saya mencoba untuk merangkumnya dalam tulisan. Jika rekan-rekan ingin mendapatkan rekaman audio seminar tersebut, bisa menghubungi email saya di fifin(dot)alfin(at)gmail(dot)com, atau silahkan tuliskan permintaan di kolom komentar.

Berikut rangkuman seminar Membangun Kemandirian dan Menumbuhkan Kompetensi Anak oleh Ibu Najeela Shihab.

Continue reading

Advertisements

Hidup Sehat dengan Bio Energy Power

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti workshop hidup sehat dengan judul SELF HEALING METHOD BASED ON MEDICAL SCIENCE bersama dr. Rini Damayanti, DCN bertempat di Rumah KAIL bandung. Dalam kesempatan tersebut saya mendapat banyak informasi dan belajar bagaimana hidup sehat dengan mengandalkan energi yang dimiliki tubuh kita sendiri.

Tuhan telah menciptakan kita dengan segala macam potensinya, salah satunya adalah tubuh kita memiliki kemampuan self healing yang luar biasa, hanya tinggal mengolah energi yang kita ambil dari alam.

Kriteria sehat itu sendiri, adalah sehat fisik, mental/rohani, dan sosio-ekonomi (WHO:1946). Sedangkan pola hidup sehat alami tubuh kita mencakup; pola pikir positif, makan baik dan benar (nutrisi terpenuhi), olahraga rutin dan teratur, cukup sinar matahari dan udara segar, serta sistem pembuangan tubuh terpelihara.

Saya mengetahui informasi baru bahwa sistem pembuangan kita tidak hanya dua bagian besar, namun ada satu sistem yang sering dilupakan. Selain sistem pencernaan (buang air kecil, buang air besar, dan keringat), sistem pernafasan (bernafas), juga ada sistem limpatik (kerja otot).

Pola pikir positif merupakan bagian dari pola hidup sehat karena salah satu akibatnya jika terlalu berfikir negatif akan mengakibatkan stress, dan hal tersebut akan menurunkan daya tahan tubuh hingga 75%. Selain itu juga dikatakan bahwa bahaya membiasakan pola pikir negatif adalah membuat tubuh kita mengeluarkan banyak energi yang tidak bermanfaat. Dan bahayanya lagi, ternyata pola pikir negatif akan menyebabkan radikal bebas yang akan mengaktifkan sel-sel kanker yang sebenarnya sudah ada dalam tubuh kita.

Serunya, Dokter Rini menjelaskan kepada kami semua, bahwa salah satu indikator untuk bisa melihat tingkat kesehatan seseorang adalah dengan melihat pupil mata.

pupil mata

Berdasarkan hasil penelitian, semakin hitam iris mata seseorang, maka semakin dalam lubangnya, dan itu merupakan indikator semakin berat penyakit yang dideritanya. Garis kuning di tepian mata, menunjukkan tingkat stress, kemudian garis usus bisa terlihat sebagai indikator perilaku anak susah makan. Yang mengejutkan, hasil penelitian yang dilakukan rekan-rekan Dokter Rini, warna mata yang jernih ditemukan pada vegetarian yang mengkonsumsi sayur lebih dari empat tahun.

Berbicara tentang pola makan sehat, yang biasa kita kenal dengan istilah “4 Sehat 5 Sempurna”, Dokter Rini menjelaskan hal yang sedikit berbeda, yaitu “4 Sehat 5 Disempurnakan”. 4 sehat artinya, komposisi makanan harian harus memenuhi perbandingan 1:1:6:2 (karbohidrat : protein : mineral : vitamin) dengan 20% terdiri dari acid food (karbohidrat dan protein) dan 80% based food (mineral dan vitamin). 5 disempurakan berarti makanan dikunyah 40 kali, dibarengi cairan minimal 2L sehari.

Nah! Ada satu cara lagi nih untuk membiasakan pola hidup sehat dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh tubuh kita, yaitu self healing. Maka teknik olah nafas dan olah gerak yang dikenal dengan istilah Bio Energy Power (BEP) menjadi sangat bermanfaat. selain mudah dilakukan di manapun kita berada, kapanpun, tidak mengeluarkan biaya apapun, kita bisa mengolah energi yang kita ambil dari sekitar, dikumpulkan dalam tubuh dan bisa langsung kita gunakan pada bagian-bagian tubuh yang sakit.

Jika kita mengingat kembali yang dikatakan Hypocrates, “Manusia sebagai mahluk yang paling sempurna, memiliki kemampuan menyembuhkan dirinnya sendiri.”. Begitu juga diungkapkan oleh Hiromi Shinya, MD dalam buku The Miracle of Enzyme, “Hanya tubuh yang dapat menyembuhkan dirinya sendiri, seorang dokter menciptakan ruang bagi terjadinya penyembuhan tersebut.”

Bertolak dari dua tokoh diatas, Dr. Harry Angga dari Bandung, kemudian memperkenalkan metode auto-therapy (ototerapi) seperti yoga atau taichi, namun ini lebih mudah dan hanya memiliki tiga jurus saja dan dikenal sebagai Bio Energy Power (BEP).

Prinsi utama dari BEP adalah mengoptimalkan fungsi dari metabolisme tubuh, daya tahan tubuh, dan regenerasi tubuh dengan perpaduan antara olah nafas dan olah gerak. Olah nafas BEP akan melipatgandakan energi dalam tubuh, sedangkan olah gerak untuk memposisikan energi yang besar itu pada bagian-bagian tubuh tertentu yang nantinya akan membangkitkan kemampuan ototerapi.

Dokter Rini mengatakan sehari cukup dengan 30 menit melakukan BEP, yaitu kurang lebih sebanyak tiga sesi (1 sesi dihitung 10 kali melakukan tiga jurus – jurus 1, jurus 2, jurus 3 lalu ambil nafas biasa dan kembali ke jurus 1, 2 dan 3 ambil nafas lagi lakukan kembali jurus 1, 2, dan 3 hingga satu sesi berakhir).

Berikut saya lampirkan tautan dari ketiga jurus tersebut :

jurus 1

jurus 2

jurus 3

Selain hal-hal yang sudah dikemukakan diatas, berlatih BEP setiap hari dapat memberikan kita manfaat seperti; tidak mudah merasa lelah, tidak mudah terserang penyakit, mempercepat proses penyembuhan medik, tidak mudah stress, memperkecil kemungkinan terkena serangan jantung dan stroke, memperlambat proses penuaan kulit, mempertahankan keindahan buah dada, muka dan perut, mempercepat proses penyembuhan luka, memberikan ketenangan batin dan meningkatkan kepercayaan diri, serta banyak manfaat lainnya. Yang paling penting adalah dengan olah nafas dan olah gerak ini akan mendekatkan kita kepada Tuhan.

Mari memulai pola hidup sehat dengan memanfaatkan kemampuan ototerapi yang Tuhan berikan pada tubuh kita.

Selamat mencoba!!

Melatih Kemampuan Ekspresi Anak Melalui Kegiatan Olah Tubuh dan Eksplorasi Alat Musik

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mendampingi kakak Pre-Kindie Rumah Main Cikal Sudirman berkegiatan, bertempat di Sekolah Cikal Cilandak, kakak Pre-Kindie mengeksplorasi alat musik dan melakukan kegiatan olah tubuh bersama guru tamu, Om Arif dan Tante Winda.

Tema kelas Pre-Kindie pada term ini adalah “The Artist In Me” dengan tujuan pembelajaran, anak mampu mengekspresikan diri melalui bunyi dan suara. Maka kegiatan dengan mengundang guru tamu, bukan tanpa makna dan tujuan.

Kemampuan berekspresi merupakan salah satu kecerdasan emosi yang harus dimiliki anak sejak usia di bawah lima tahun melalui pengalaman berulang dan dukungan dari orang sekitar. Otak mereka akan berkembang sehingga anak dapat memahami apa yang ia rasakan, mengidentifikasi dan kemampuan yang lebih tinggi anak diharapkan mampu mengungkapkan perasaan mereka, lalu mengambil tindakan yang sesuai. Kecerdasan ini akan berpengaruh pada kemampuan regulasi emosi anak.

Mengingat pentingnya seorang anak mengekspresikan dirinya, maka selaras dengan tujuan pembelajaran pada term ini, guru-guru Rumah Main Cikal Sudirman mengemasnya melalui kegiatan eksplorasi musik dan olah tubuh.

Continue reading

Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 4)

Pembicara terakhir Bincang Edukasi Meetup #7 ini adalah satu-satunya laki-laki yang ada di deretan nama presentator, ya! Beliau adalah Pak Ben Satriatna atau yang akrab disapa Kang Ben, direktur dari yayasan kalyANamandira. Sebuah komunitas yang berdiri tahun 1999 ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang muda yang kritis terhadap pendidikan yang kesemuanya adalah volunteer.

Terinspirasi dari seorang Paulo Freire, yang mengungkapkan bahwa “Pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia..” dan Chico Mendez, yang merupakan penyadap karet dari hutan Amazon. Keduanya memberikan pengaruh yang sangat besar pada perjalanan pergerakan rekan-rekan kalyANamandira, dengan slogannya “Pendidikan Masyarakat kritis.”

Konsep itu diaplikasikan melalui kegiatan “Rumah Belajar Samoja” dan “Pendampingan Anak di RuTan Kebon Waru”. Kang Ben mengungkapkan, melalui kegiatan ini, kalyANamandira memiliki cita-cita besar, yaitu “Bagaimana sebuah metode pendidikan dapat membangun pemikiran kritis dari anak didik.

 

 

Kegiatan Rumah Belajar Samoja sudah dilakukan dari tahun 2003, tetapi mulai efektif pada tahun 2005. Berbeda dengan RuBel Sahaja yang fokus pada anak jalanan, anak-anak yang belajar di RuBel Samoja bersekolah, namun kebanyakan drop-out sampai tingkat SMP, dan struktur ekonomi yang kurang menunjang.

Pada awal presentasi Kang Ben selalu menegaskan bahwa nasib mereka (masyarakat menengah ke bawah) bukan karena nasib dari Tuhan, tetapi ada struktur yang menyebabkan mereka seperti itu, dan beliau percaya yang bisa merubahnya adalah pendidikan.

Continue reading

Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 3)

Seorang wanita muda yang anggun dan enerjik sempat mencuri perhatian audiences pagi itu. Rahma Ainun Nisa atau yang lebih akrab disapa Ka’Inun, menjadi presentator ketiga pada acara Bincang Edukasi Meetup #7 dengan mengusung tema “Pendidikan Kreatif Anak Jalanan.”

Ka’Inun adalah Kepala Sekolah “Rumah Belajar (Sahabat Anak Jalanan) Sahaja“. Sahaja itu sendiri merupakan komunitas yang didirikan oleh seorang mahasiswi UPI, Bunda Ela Nurlaela dan Pak Gamestya pada tahun 2004.

Komunitas yang fokus pada pembelajaran untuk anak jalanan ini, sudah berlangsung dari bulan Juli tahun 2009 lalu. Berdirilah “Rumah Belajar Sahaja” yang diprakarsai oleh Ka’Inun dan rekan-rekannya, dan memulai proses pembelajaran pertama kalinya di daerah IP dan terminal Ciroyom.

Image

Image

Pembahasan menjadi menarik ketika Ka’Inun menceritakan kendala dan kondisi yang dihadapi selama proses di lapangan. Dengan mayoritas anak-anak jalanan, dan “nge-lem” pula, tentu saja, akan menjadi kendala yang sangat sulit bagi kawan-kawan fasilitator.

Ditambah lagi dengan ketidak-tersedia-an tempat untuk proses pembelajaran, sehingga berpindah-pindah tempat belajar sudah menjadi hal biasa bagi mereka, sangat fleksibel. Dan kini, mereka telah memiliki empat titik tempat belajar, yaitu di Cihampelas, Ciroyom, Pasar Cimindi, dan Dekat stasiun Cimahi.

Adapun kegiatan yang biasa dilakukan di RuBel Sahaja ini diantaranya, membaca-menulis-berhitung, mengaji Al-Qur’an, kesenian tari daerah, dan perpustakaan mini Sahaja.

Dengan bermodalkan rasa peduli yang begitu besar terhadap pendidikan anak jalanan, Ka’Inun dan rekan-rekannya masih menjalankan proses pembelajaran dengan semua kendala dan kondisi yang sudah penulis jelaskan di atas.

Seiring dengan perjalanan waktu, mereka pun menaruh harapan yang besar pada kegiatan yang mereka lakukan ini, yakni adanya keinginan untuk membangun rumah singgah, mendirikan program keterampilan terpadu, dan harapan terbesar Ka’Inun adalah tidak ada lagi anak jalanan.

Sungguh harapan yang besar… Dan selama komitmen, semangat, dan usaha yang dimiliki lebih besar dari harapan itu, maka tidak mustahil bisa diwujudkan.

Presentasi ditutup dengan perform dari anak-anak RuBel Sahaja yang membawakan sebuah tarian tradisional. Perform anak-anak itu mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari audiences. Ini membuktikan, bahwa anak jalanan pun memiliki potensi besar untuk bisa merubah kualitas dirinya menjadi lebih baik dengan belajar. \(^.^)/

Image

Image

photo credit by finfin

Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 2)

Ibu Luna Setiati, seorang penggagas Chiekal Creative Learning tampil sebagai presentator kedua dalam acara Bincang Edukasi Meetup #7. Pada presentasinya, beliau mengangkat tema yang menarik, “Belajar Menjadi Kreatif dan Imajinatif Melalui Rupa dan Kata”.

Chiekal itu sendiri merupakan tempat dimana anak-anak bisa bermain sambil belajar. Kegiatan belajarnya dikemas sedemikian rupa, dan lebih menekankan pada perkembangan daya imajinatif anak, melalui berbagai metode seperti menggambar, bercerita, olah tubuh, bunyi dan rupa.

Image

Image

Ibu Luna sendiri sangat meyakini bahwa belajar melalui menggambar, mempunyai kekuatan yang cukup efektif untuk menyampaikan sebuah pengetahuan pada anak, karena materi disampaikan melalui sebuah pengalaman yang imajinatif. Tujuannya bukan hanya sekedar membuat anak menjadi terampil menggambar, namun lebih dari itu, adalah kemampuan anak dalam mengungkapkan ide dan problem solving.

Saya sangat tertarik dengan analogi yang beliau ungkapkan, “mana yang lebih baik, belajar seni atau belajar Matematika?”. Beliau menekankan bahwa berbakat atau tidak, anak harus belajar seni, untuk membina kreatifitas dan kepekaan mereka. Berbakat atau tidak, anak juga harus belajar Matematika, untuk membina kemampuan berfikir logisnya.

“How much they know? How to use their knowledge?” menjadi indikator yang sangat penting untuk mengetahui potensi pengetahuan yang anak miliki.

photo credit by finfin

Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 1)

Boemi Nini Edupreneur Center yang berlokasi di Jl. Punawarman No.70 Bandung, suasana pagi ini ramai dan hangat, bagaimana tidak, kawan-kawan pemerhati dan penggerak pendidikan berkumpul dalam acara yang bertajuk Bincang Edukasi Meetup #7.

Bincang Edukasi adalah acara dua bulanan yang dilaksanakan di beberapa kota, yang mewadahi diskusi-diskusi mengenai topik dan tren paling baru di dunia pendidikan.

Pada kesempatan kali ini, ada 4 orang pembicara yang mengisi diskusi. Nia KurniatiRahma Ainun Nisa, Luna Setiati, dan Ben Satriatna. 

Acara dibuka oleh Mas Kreshna, menjelaskan mengenai apa itu Bincang Edukasi, diselingi dengan pembahasan presentasi kelulusan Indonesia, yang menurutnya bisa membawa Indonesia menjadi negara adidaya. (>.<) Lalu dilanjutkan dengan presentasi singkat namun padat dari setiap pembicara.

Pembicara pertama, adalah seorang pengajar di SMPN 11 Bandung, seorang guru yang kreatif dan berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan, Ibu Nia Kurniati. Beliau berbagi tentang Student Centered Learning yang diterapkannya di sekolah tempat beliau mengajar.

Continue reading