Membuat Kaos Bersama Orangtua Siswa

Hari ini saya berkesempatan melihat dan mengalami langsung proses pembuatan kaos mulai dari tahap awal hingga selesai menjadi sebuah kaos. Bertempat di rumah Pak Oki yang merupakan ayah dari salah satu siswa KPB, beliau mempunyai usaha konveksi dan memberikan kesempatan kepada siswa-siswi KPB untuk belajar bagaimana membuat kaos dari proses awal hingga selesai.

Sebelumnya kami berdiskusi mengenai macam-macam bahan kain, proses pencelupan, apa yang dimaksud dengan bahan ‘combat’, harga dan lokasi pembelian kain dalam jumlah yang banyak. Pak Oki juga menyampaikan perbedaan sablon manual dengan teknik printing, apa yang menyebabkan sablonan pada kaos cepat luntur, atau terkelupas saat disetrika, atau ukuran yang menyusut ketika dicuci. Siswa-siswi KPB tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertanya banyak hal kepada Pak Oki sebelum mereka terlibat langsung proses pembuatan kaosnya.

img_20170208_080334

siswa-siswi KPB berdiskusi bersama Pak Oki

Continue reading

dr. Peni dan Asupan Gizi Anak

Beberapa waktu lalu, teman saya mendapat kesempatan mewawancarai dr. Penihedi, seorang ahli gizi sekaligus pemilik usaha katering sehat “Prima Diet”. Saya mengutip wawancara beliau untuk dibagikan kepada Ayah dan Bunda, selamat membaca!!

nutrition-clipart-di67RA6i9

  • Apakah makanan sehat itu? 

Makanan atau asupan dianggap menyehatkan jika lengkap nutrisi dan seimbang makro dan mikro nutrientnya. Zat-zat gizi terutama makro nutrient yaitu karbohidrat, protein, lemak serta mikro nutrient sebagai penyeimbang yang kaya vitamin dan mineral.

  • Makanan apa yang dapat disebut makanan sehat? Apakah ada kriteria khusus dan contohnya?

Prinsip makanan sehat dari waktu ke waktu mengalami pergeseran dikarenakan faktor industri makanan yang berkembang pesat. Sehingga konsep makanan sehat yang tetap dipertahankan adalah makanan yang mendekati wujud atau bentuk aslinya. Artinya natural dan fresh. Karena dengan cara itu nutrisi tetap terjaga dan tidak banyak manipulasi yang bisa menghilangkan kandungan nuutrisi alaminya.

Pola makan keluarga memegang peran penting dalam pembentukan mindset pemilihan bahan makanan sehingga dari rumah lah pola makan ditentukan arahnya.

Continue reading

Don’t Be Panic with Separation Anxiety!!

Apa yang dimaksud dengan “Separation Anxiety”?

Merupakan hal yang wajar anak menangis ketika ditinggal oleh orangtua khususnya, ini merupakan salah satu tahap perkembangan yang harus dilalui anak. Mengerti perilaku anak, dapat membantu orangtua merencanakan strategi apa yang harus dilakukan dalam menanggapi masa perpisahan ini.

Bayi pada usia kurang dari 6 bulan biasanya cepat sekali beradaptasi dengan orang lain atau pengasuh, justru yang akan menghadapi masa perpisahan adalah orangtua. Namun, tidak ada masalah selama apa yang anda harapkan dapat dipenuhi oleh pengasuh tersebut.

Antara usia 4-7 bulan, anak mulai mengembangkan inderanya dan mulai belajar keberadaan barang maupun orang disekitarnya walaupun diluar jangkauan anak. Mereka akan mulai menjatuhkan barang yang dipegangnya dan berharap orang dewasa yang ada disekitarnya mengambilkan barang tersebut, dan begitu seterusnya.

Sama halnya dengan konsep orangtua, anak menyadari ada Ayah dan Ibu dan tidak masalah ketika mereka tidak terlihat. Anak belum mengerti konsep waktu, ketika anda di dapur, di ruangan yang berbeda, maupun di kantor, anak tahu bahwa anda akan kembali kepadanya.

Ketika anak mulai memasuki usia 8-12 bulan, dia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan menyadari ketika orangtua tidak ada bersamanya, walaupun anda hanya meninggalkan mereka ke dapur, kamar mandi, atau bahkan kantor. Dalam tahap inilah proses perpisahan dimulai dengan menunjukkan reaksi menangis, ingin selalu dekat dengan anda, atau sekedar mencari perhatian orang dewasa lainnya.

Masa perpisahan ini dapat berbeda satu anak dengan anak lainnya, beberapa anak akan mulai masa ini pada usia 18 bulan, 2,5 tahun, dan bahkan ada yang tidak mengalaminya. Penyebab masa perpisahan ini juga tidak hanya perpisahan dengan orangtua, bisa terjadi karena kekhawatiran orangtua yang berlebih, perpindahan asuhan dari orangtua kepada pengasuh, kelahiran anak kedua, pindah rumah, atau adanya tekanan di rumah.

Waktu anak dalam menghadapi masa perpisahan ini pun tergantung pada anak itu sendiri dan respon dari orangtua, paling lama hingga anak memasuki usia sekolah dasar.

“Separation Anxiety” bisa dipersiapkan!
Continue reading

Adik-adik Menanam Bibit Kangkung

Siapa bilang “Go Green” berlaku untuk orang dewasa?! Kita bisa juga memperkenalkan anak usia 18-24 bulan pada konsep ini lho!

Hari Sabtu lalu, kami melakukan kegiatan bersama Adik-adik di Gelora Bung Karno. Tema utama adalah memperkenalkan fungsi air untuk menyiram tanaman. Adik-adik dengan antusias menghampiri dan mulai bereksplorasi dengan tanah organik, kegiatan ini sekaligus dapat melatih anak mengembangkan sensoriknya dengan menyentuh, menggenggam tekstur tanahnya.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Continue reading

“Out Of School Project” – Bonding Time Antara Orang Tua dan Anak

Bagi sebagian orang tua mungkin akan mengeluhkan dengan adanya ‘tugas rumah’ yang dibawa anaknya dari sekolah, namun perlu orang tua ketahui banyaknya manfaat yang akan anda rasakan melalui salah satunya “Out Of School Project” atau yang lebih dikenal sebagai “Home Project” tersebut.

Penelitian membuktikan bahwa keterlibatan dan peran aktif orang tua, keluarga dan sekolah yang berkesinambungan dapat meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan anak secara optimal (Eccles & Harold, 1993; Illinois State Board of Education, 1993).

Menurut Henderson and Berla (1994), prestasi anak di sekolah bukan ditentukan oleh pendapatan dan status sosial keluarganya, namun oleh bagaimana kemampuan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang mampu mendorong anak untuk belajar, serta keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak di sekolah dan komunitas.

Berbicara soal peran orang tua dalam proses perkembangan dan keberhasilan anaknya, saya dapat membuktikan teori-teori yang sudah beberapa saya sebutkan diatas. Minggu ini, saya beberapa kali mendapat kesempatan menjadi moderator kelas Kakak-Kakak mempresentasikan “Home Project” mereka. Diluar dugaan, orang tua datang mengumpulkannya bukan hanya dalam bentuk poster, namun banyak yang membuat diorama. BRAVO!!

Continue reading

Melatih Kemampuan Berkomunikasi Pada Anak Pra-Sekolah

Komunikasi merupakan interaksi dua arah antara dua orang atau lebih. Komunikasi yang efektif dengan orang-orang disekitar akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak, adapun tujuan dari komunikasi pada anak usia pra-sekolah adalah untuk mengembangkan konsep diri, melatih ketrampilan kognitif, psikomotor dan sosial mereka. Proses komunikasi itu sendiri sebenarnya sudah dimulai pada saat anak lahir. Ada pun aspek yang mendukung kemampuan berkomunikasi pada anak ada tiga hal, yaitu bicara, mendengar, dan bahasanya. Kemampuan berkomunikasi anak akan berbeda antara satu dan lainnya, ada yang berkembang cepat ada pula yang bertahap atau bahkan terhambat. Sebagai orang tua, tentu ini menjadi hal yang penting untuk diperhatikan, ketika muncul kekhawatiran apakah proses komunikasi anak sudah benar atau kurang, dan apakah kemajuannya normal atau terhambat. Untuk itulah mengapa stimulasi dari orang tua menjadi penting untuk mencapai perkembangan komunikasi yang optimal pada anak.

Milestones Perkembangan Bicara dan Mendengar

Komunikasi merupakan salah satu cara untuk mengemukakan ide, didalamnya ada proses menyampaikan (bicara) dan menerima (mendengar). Seperti dilansir dalam buku Childhood Speech, Language & Listening Problems oleh Patricia McAleer Hamaguchi dipaparkan mengenai Milestones perkembangan bicara dan mendengar berdasar usia pra-sekolah yang dapat dijadikan acuan orang tua; Continue reading

Mempersiapkan Toilet Training Untuk Si Kecil

Toilet training” atau biasa disebut “Potty training” merupakan momok yang sedikit menakutkan terutama bagi Ibu muda, karena dalam fase ini akan terjadi perubahan psikologis dan emosi pada anak dan juga anda sebagai Ibunya.

Namun, anda tidak perlu panik, pasti bisa diatasi, hanya memang memerlukan konsistensi dan kesabaran yang cukup besar, dan waktu yang berbeda tergantung pada si anak. Berikut ini saya mencoba berbagi informasi dan tips seputar toilet training yang dihimpun dari berbagai sumber. Selamat membaca!

Hal-hal yang perlu diketahui:

  • Anak usia 12-18 bulan, biasanya sudah bisa merasakan perut dan atau kandung kemihnya penuh.
  • Pada usia 2,5 tahun anak sudah siap diajarkan toilet training.
  • Masa toilet training akan berbeda tergantung pada usia, gender serta kesiapan anak dan Ibu (anak kedua akan lebih mudah untuk potty training daripada anak pertama).

Kapan saat yang tepat untuk memulai toilet training?

  • Anak bisa merasakan saat popoknya kotor atau basah.
  • Anak bisa merasakan saat dirinya buang air kecil, dan akan mengatakannya pada anda.
  • Tenggang waktu anak untuk buang air kecil kesekian kalinya, biasanya terjadi dalam 1 jam.
  • Anak tahu saat dirinya ingin buang air kecil, dan mungkin dia akan mengatakan terlebih dahulu pada anda.

Bagaimana ciri anak yang siap untuk toilet training?

Continue reading