Bertumbuh Bersama Kelompok Petualang Belajar

Hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk mendampingi siswa-siswi KPB (Kelompok Petualang Belajar) Semi Palar. Sehari sebelumnya saya sangat gundah gulana, karena tidak terpikirkan apa yang akan dilakukan, saya akan berkegiatan dimana, bersama siapa, begitu banyak kecemasan.

Di pagi yang cerah, dengan membawa kekosongan dalam pikiran, saya ikut berkegiatan di Desa Sekepicung, di salah satu rumah warga yang disebut Rumah Mentari. Kami disambut oleh pemilik rumah, Pak Lala dan istri yang mempersilahkan kami berkegiatan disana. Ruangan yang dipenuhi rak dengan berbagai macam buku mengisinya, sayangnya saya belum sempat mengacak-acak ada buku apa saja disana.

Saya diceritakan oleh salah satu siswa, bagaimana mereka berkegiatan di Sekolah Mentari. Awalnya mereka disana saat terlibat proyek bersama beberapa fasilitator dan warga disana mengerjakan pertanian terpadu di Desa Sekepicung. Kemudian Pak Lala dan istri menggagas dan mengajak siswa-siswi KPB ini melakukan kegiatan di Rumah Mentari, ikut terlibat di ladang, dan mengajarkan anak-anak disana pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan kegiatan lain setiap minggunya.

Continue reading

Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 2)

Sebagai guru pre-school, saya tidak dapat menilai jawaban anak benar atau salah, karena setiap apa yang mereka ungkapkan, ada pengalaman yang bermakna bagi dirinya. -fifin-

Setelah membaca kembali cerita yang telah dipaparkan di bagian 1, cerita bagaimana ‘Mika’ tahu cara menggunakan mainan salon-salonan, bagaimana ‘Timur’ dapat aktif mengemukakan ide-ide yang ada dalam pikirannya, bagaimana ‘Hunter’ kemudian berusaha mencari dan melakukan kegiatan-kegiatan secara spontan dengan caranya, dan bagaimana ‘Gael’ bisa mengemukakan jawaban yang mungkin bagi orang dewasa lain terdengar konyol.

Siang sepulang sekolah, saat ayahnya menjemput, beliau bertanya kepada saya apakah benar ‘Gael’ tahu konsep kanan-kiri, beliau pun akhirnya memberikan informasi yang membuat saya bahkan lebih takjub lagi. Menurut ayahnya, ‘Gael’ tidak pernah diajarkan konsep kanan-kiri, tetapi setiap pulang sekolah, ‘Gael’ selalu menunjukkan arah kepada ayahnya yang sedang menyetir, “belok kiri”.

Kemudian ia juga menjelaskan mengapa ‘Gael’ menjawab bahwa dia potong rambut di bioskop. Ternyata menurut sang ayah, salon tempat dia potong rambut, disebrangnya terdapat bioskop. Mungkin yang lebih menarik baginya adalah bioskop yang dia lihat ketimbang salon saat dirinya berada.

Dari cerita dan jawaban yang saya dapatkan, bahwa anak sebenarnya mampu merekonstruksi pengalaman yang dia dapatkan dengan pengetahuan baru, dalam hal ini anak telah mengalami proses belajar secara mandiri.

Continue reading

Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 1)

Profesi sebagai guru pre-school, berinteraksi dengan anak-anak yang penuh imajinasi dan tak mudah diprediksi, bagi saya seperti hidup didunia fantasi. -fifin-

Sebut saja namanya ‘Mika’, anak perempuan cantik berusia 28 bulan dengan rambut hitam lebat dan ikal di bagian bawahnya, seperti Barbie. Suatu pagi, saya memperlihatkan mainan salon-salonan yang didalamnya berisi kaca, peralatan make-up, gunting, sisir, hair-dryer, lipstick, jepitan rambut, dan handphone (tentu saja semuanya terbuat dari bahan plastik mainan). Ia langsung menghampiri dan mengambil lipstick, ia berdiri menghadap kaca kemudian mengoleskan benda yang dipegangnya tersebut di bibirnya.

Setelah beberapa lama, ia kembali mengambil mainan lain, yaitu gunting dan hair-dryer sambil menghampiri saya, dan melakukan gerakan seolah-olah sedang menggunting rambut dan mengeringkan dengan mainan yang ia pegang.

♥ ♣ ♠ ♦

Sebut saja namanya ‘Gael’, seorang anak laki-laki imut berusia 31 bulan yang secara perawakan lebih kecil dari ‘Mika’. “Love-school” julukan yang cocok untuk dia, karena semangatnya datang ke sekolah, dan menolak saat saya, guru lain, bahkan orangtuanya mengajak pulang. Setiap pagi ia menunjukkan senyum lebarnya pada semua orang, dan tentu saja se-gunung pertanyaan telah ia siapkan untuk menikmati harinya, dan dia senang sekali membaca buku.

Continue reading

Guru yang Multi Profesi

Saya adalah seorang Event Organizer, mulai dari merencanakan, menyusun jadwal, membuat alat peraga, dan evaluasi proses pengajaran, setiap hari, minggu, 3 bulanan, bahkan tahunan. Selalu siap jadi MC dadakan jika siswa berulang tahun.

pada acara assembly kelas KK-B

pada acara assembly kelas KK-B

Saya adalah Fotografer, mengambil foto-foto proses belajar yang berharga untuk kebutuhan evidence dan laporan portfolio siswa.

Saya adalah Model sekaligus Penari, jika ada event, saya ada di barisan paling depan mengajarkan siswa gerakan menari untuk perform akhir tahun ajaran.

Saya adalah Aktor sekaligus Stand Up Komedian, dalam ekspresi apapun, dalam mood seperti apapun, dalam kondisi bagaimanapun, saya bisa membuat siswa belajar dengan riang gembira.

Continue reading

Surat Keputusan Tentang Penerapan Kurikulum 2013

Bahagia sekali pagi ini, buka mata, mandi, menyiapkan sarapan, sambil tetap googling di media sosial. Tanpa sengaja membaca postingan seorang teman, dengan judul menarik “surat resminya sudah keluar”, dan yang lebih menarik lagi surat itu dikeluarkan oleh Page-nya KemDikBud RI. Sontak saya langsung membuka link-nya, dan ternyata benar itu surat yang dikeluarkan oleh Bapak Menteri Pendidikan, Anies Baswedan perihal pelaksanaan Kurikulum 2013.

Surat Keputusan Pelaksanaan Kurikulum 2013 dapat dilihat di sini

Sebenarnya surat keputusan ini belum menjawab semua pertanyaan atau keluhan masyarakat secara keseluruhan, namun cukup memberikan jawaban yang tegas perihal ‘harus diapakan Kurikulum 2013 ini’. Kurikulum 2013 ternyata tidak sepenuhnya dihapuskan, di beberapa sekolah yang sudah menjalankannya masih tetap dipakai, dengan catatan sekolah tersebut akan menjadi percontohan dalam pengembangan Kurikulum 2013 tersebut.

Bagi sekolah yang baru satu semester menggunakan Kurikulum 2013, akan dihentikan dan dianjurkan kembali ke Kurikulum 2006.

Ada satu paragraph dari surat tersebut yang menarik perhatian saya,

Pada akhirnya kunci untuk pengembangan kualitas pendidikan adalah pada guru. Kita tidak boleh memandang bahwa pergantian kurikulum secara otomatis akan meningkatkan kualitas pendidikan. Bagaimanapun juga di tangan gurulah proses peningkatan itu bisa terjadi dan di tangan Kepala Sekolah yang baik dapat terjadi peningkatan kualitas ekosistem pendidikan di sekolah yang baik pula. Peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan akan makin digalakkan sembari kurikulum ini diperbaiki dan dikembangkan.

Ini intinya! Kurikulum seperti apa pun, akan menuntut seorang tenaga pendidik untuk bereksplorasi dengan materi yang ia ajarkan pada siswa. Jadi memang perlu menjadi perhatian penting tentang pengembangan tenaga profesional tenaga kependidikan kita.

Saya pribadi berharap, orang yang memang terjun di dunia pendidikan, adalah mereka yang memang INGIN bukan karena GA ADA PILIHAN LAIN. Karena itu akan mempengaruhi kinerjanya sebagai pekerjaan yang membutuhkan profesionalisme dan komitmen tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan mulia UUD 1945, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa“.

Semoga saja dengan adanya surat keputusan ini, dan konsistensi dari Bapak Menteri dan dinas Pendidikan dapat membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Salam edukasi.

Sebenarnya Siapa yang Tidak Konsisten?

Saya hanya ingin sedikit berkomentar perihal penghapusan UN sebagai syarat kelulusan yang sedang dan akan selalu marak diperbincangkan. Tidak ada salahnya jika kita sedikit melirik ke belakang, seperti apa yang sedang saya lakukan sekarang, kembali membaca dan mempelajari dengan seksama dokumen kurikulum 2013.

Salah satu landasan empiris dikembangkannya kurikulum 2013, atau yang kita kenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi” disebutkan;

“Dewasa ini, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut bersumber dari kurikulum, namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini.” (hal 8)

Disebutkan bahwa kurikulum kita terlalu berpatok pada aspek kognitif, namun mengapa ranking prestasi pendidikan anak Indonesia masih setia pada posisi 10 besar terbawah dari 65 negara?

Continue reading

Menjadi “dewasa” Tak Seindah dan Semudah Yang Dibayangkan

Saya ingin membagi kisah hidup sebagai orang “dewasa” (menurut versi sendiri), namun terlebih dahulu ada baiknya saya suguhkan sebuah cerita menarik, sebagai berikut..

Waktu berusia enam tahun, aku pernah melihat gambar luar biasa dalam buku tentang hutan perawan yang berjudul Kisah-Kisah Nyata. Gambar itu memperlihatkan seekor boa pembelit sedang menelan binatang buas. Inilah salinan gambar itu.

Di dalam buku itu dikatakan, “Boa pembelit menelan mangsanya bulat-bulat, tanpa mengunyahnya. Sesudah itu mereka tidak bisa bergerak, dan mereka mencerna makanannya dengan cara tidur selama enam bulan.”

Ini membuatku banyak berfikir tentang petualangan di rimba raya dan, akhirnya, aku berhasil membuat gambar pertamaku dengan pensil warna. Gambar pertamaku seperti ini:

Aku memperlihatkan karya besarku kepada orang-orang dewasa dan bertanya apakah gambarku membuat mereka takut.

“Kenapa harus takut pada topi?” mereka menjawab.

Gambarku bukan gambar topi. Itu gambar boa pembelit yang menelan gajah. Maka aku menggambar bagian dalam si ular pembelit, agar orang-orang dewasa itu mengerti. (Orang-orang dewasa selalu memerlukan penjelasan) Gambar keduaku seperti ini:

Para orang dewasa kemudian menasihatiku agar agar aku menyerah dan tak menggambar ular boa lagi, baik tampak luar maupun tampak dalam, alih-alih menggambar, aku sebaiknya menggunakan waktuku untuk belajar geografi, sejarah, aritmatika dan tata bahasa.

Maka begitulah, pada usia enam tahun aku melepaskan karier luar biasa sebagai pelukis. Aku putus harapan gara-gara kegagalan gambar pertamaku dan gambar keduaku. Orang-orang dewasa tak pernah memahami sesuatu seperti apa adanya, dan sungguh melelahkan bagi anak-anak kalau selalu harus memberi penjelasan kepada mereka. (The Little Prince – Exupery)

Continue reading