Menumbuhkan Potensi Disiplin Anak (Rangkuman Seminar Parenting oleh Ibu Najeela Shihab)

Pada 15 September lalu bertempat di The White Clover, Bandung berlangsung acara Seminar Parenting dengan judul Membangun Kemandirian dan Menumbuhkan Kompetensi Anak yang dibawakan oleh Ibu Najeela Shihab.

IMG-20170908-WA0000

Bersyukur saya bisa mendapatkan tempat duduk dan mendengarkan seminar beliau. Dalam kesempatan kali ini, saya mencoba untuk merangkumnya dalam tulisan. Jika rekan-rekan ingin mendapatkan rekaman audio seminar tersebut, bisa menghubungi email saya di fifin(dot)alfin(at)gmail(dot)com, atau silahkan tuliskan permintaan di kolom komentar.

Berikut rangkuman seminar Membangun Kemandirian dan Menumbuhkan Kompetensi Anak oleh Ibu Najeela Shihab.

Setiap anak sudah memiliki potensi dalam diri mereka, tugas orang dewasa disekitarnya adalah bagaimana menstimulasi bibit potensi disiplin dalam diri anak itu dengan penuh kesadaran. Cara yang mudah dilakukan adalah dengan diawali dari rutinitas sehari-hari, melalui pembiasaan-pembiasaan yang mudah dilakukan oleh anak dan anggota keluarga lain.

Anak cenderung mempelajari pola ketakutan dengan tangisan, lalu dengan kemampuan kognitifnya ia akan memanipulasi keadaan untuk lalai dari tugasnya. Dan biasanya sebagai orangtua, tidak tega ketika melihat anak menangis yang kemudian segala keinginan sang anak dipenuhi. Hal ini ternyata malah akan membuat anak memakai tangisannya sebagai senjata.

Nah! Sebagai orangtua, Ayah dan Bunda harusnya sepakat menjalankan disiplin dalam keluarga, karena membutuhkan pengulangan dan konsistensi. Dan ingat! Orangtua tidak bisa mengontrol anak sepenuhnya!

Lalu, apakah tujuan jangka panjang dari disiplin diri ini? Untuk memperkuat dan membuat anak berdaya atau mengontrol dan menguasai anak?

True obedience is a matter of love, which makes it voluntary, not by fear or force. (Dorothy Day)

Membaca kutipan diatas, maka sudah pasti disiplin diri untuk jangka panjang akan membuat anak berdaya. Karena disiplin yang sebenarnya adalah yang muncul dari diri sendiri dengan penuh kesadaran, bukan karena ketakutan atau sebuah pemaksaan!

Namun biasanya ada hal-hal yang membuat para orangtua bimbang dalam mendisiplinkan anak, diantaranya yang paling banyak berpengaruh adalah hal yang didengar dan dilihat saat kecil (pola asuh orangtua masa kecil) dimana pola asuh ini dipercaya merupakan hal yang emosional. Terkadang orangtua juga menganggap anak belum mampu disiplin, sehingga mereka lebih banyak berperan membantu segala kebutuhan sang anak.

Hal yang paling menonjol dalam peran manusia sebagai mahluk sosial adalah adanya konformitas, kecenderungan untuk mendengarkan apa kata orang lain. (^.^) Sebagai orangtua muda, tentu akan membutuhkan banyak referensi mengenai pola asuh anak yang tepat, namun, jangan lupa bahwa setiap anak memiliki karakternya sendiri, tidak bisa disamakan dengan anak lain.

Kadangkala, orangtua juga memiliki ketakutan kehilangan kekuasaan, jika anak membuat keputusan sendiri. Atau terkadang orangtua takut memberi kebebasan pada anak, padahal kunci dari disiplin positif adalah memberikan pilihan.

Maka, sebagai orang dewasa di sekitar mereka, kita memiliki kecenderungan mendisiplinkan anak melalui ancaman, hukuman, maupun pemberian hadiah. Apakah semua itu merupakan bentuk yang efektif untuk mendisiplinkan anak?

Bagaimanakah cara yang efektif untuk menumbuhkan kedisiplinan anak? Konsekuensi akan lebih efektif daripada pemberian hukuman. Misalnya, anak menumpahkan air di sofa. Tanpa sadar, orangtua cenderung menghardik anak, “Tuh kan kok airnya pek ditumpahin, basah nih…” Kemudian “nanti kamu jangan bawa gelas sendiri ya!” Atau, “Nanti ga usah duduk lagi di sofa ini.” Dan bla bla bla … Sadarkah bahwa hal tersebut akan berpengaruh pada kepercayaan diri anak suatu hari nanti. (T_T)

Maka, bentuk konsekuensi yang masuk akal adalah, orangtua tetap bersikap dan berekspresi setenang mungkin, dan bersama anak mencari solusi bersama, “Nak, karena airnya tumpah, kursinya jadi basah nih, kita apain ya?”, “Kalo gitu kita lap yuk, Ibu bantu ya!” Wah! Jika setiap orangtua bisa seperti itu, alangkah bahagianya menjadi sang anak, setiap kesalahan yang diperbuat akan jadi moment penting untuk dia belajar dan memperbaikinya dengan bijak.

Selain itu, ternyata hadiah pun sama berbahayanya dari hukuman. Bisa jadi anak akan disiplin untuk mendapatkan hadiah, tidak murni lahir dari kesadaran dirinya. Maka, bentuk yang lebih tepat adalah pemberian dukungan. Lain halnya dengan pemberian hadiah yang dikatakan di awal, “Kalo kamu mau beresin tas, nanti mama kasih permen.” Dukungan diberikan ketika anak sudah melakukan hal yang dimaksud, “Mama percaya kamu bisa merapikan tas kamu sendiri. Yuk dicoba!”.

Pemberian dukungan yang sesuai dan diikuti dengan pujian setelahnya diyakini mampu membuat anak belajar sesuatu dan berusaha untuk lebih baik lagi. Tapi hati-hati dengan pemberian “label” pada anak, “Kamu hebat!”, “Kamu cantik!” Alangkah lebih baik coba menyorot hal yang lebih spesifik, seperti “Hasil warnanya rapi, tebal, dan tidak keluar garis”, atau “Hari ini gabungan warna baju yang dipakai cocok sama kamu.”

Sebagai orangtua jangan pernah takut untuk mengkritik anak. Lakukanlah saat berkumpul dengan keluarga, coba membuka komunikasi dengan anak dan jika ada konflik atau masalah bisa dicari solusi bersama. Hal tersebut akan lebih bermakna untuk sang anak. Tidak usah takut akan dibenci anak! Kuncinya adalah cara penyampaiannya. (^.^)v

Apakah intervensi diperlukan dalam mendisiplinkan anak? Tentu saja diperlukan. Ketika ada masalah, segeralah selesaikan. Dan orangtua perlu mengambil tindakan sebelum anak yang mengambil tindakan. Coba kenali situasi dan kondisinya.

Kemudian, bagaimana sebenarnya proses disiplin yang baik? Tentu saja, orangtua harus mengerti tantangan dan cara menghadapi anak. Harus pintar-pintar juga membangun rutinitas yang sederhana atau mengubah hal yang serius menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan untuk dilakukan. Orangtua juga harus mampu membedakan “pilihan”, “permintaan”, dan “perintah”. Dan yang tidak kalah penting, membuat kesepakatan bersama.

Kesepakatan bersama sebagai alat pencegahan. Kesepakatan sederhana yang dibuat dengan keterlibatan semua anggota keluarga atau hasil diskusi dan negosiasi. Kesepakatan bersama ini merupakan cara yang cukup efektif untuk menumbuhkan disiplin anak di lingkungan yang terkecil, yaitu keluarga.

Kesepakatan bersama bisa dimulai ketika berkumpul dengan keluarga, tanyakan pada anak satu hal saja yang ingin dilakukan atau tidak ingin orang lain lakukan di rumah. Misal, Ibu mengajukan “Cuci piring dan sendok sendiri setelah makan.”, Ayah mengajukan “Setelah dipakai, mainan dirapihkan kembali.” Dan seterusnya. Poin-poin yang tertulis dapat jadi pengingat, dan seiring dengan berjalannya waktu dan usia anak, keluarga bisa membuat kesepakatan bersama yang lainnya dengan poin yang lebih banyak.

Susah-susah gampang ya untuk mempraktekan cara menumbuhkan disiplin dalam diri anak secara efektif, tapi kuncinya adalah konsisten dan berlatih! Jangan lelah untuk terus mencoba, Ayah Bunda! \(^.^)/

 

 

 

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s