Solar Panel dan Filsafat, Belajar Tidak Mengenal Batasan Usia

Sebuah pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, ketika siswa, orangtua dan pihak sekolah berkumpul dalam satu lingkaran yang sama membahas dan mendiskusikan Solar panel yang akan dipasang di sekolah. Hal-hal yang saling berkaitan ketika orangtua memberikan ilmu mengenai kelistrikan dan siswa belajar dari mereka. Keterlibatan pihak sekolah juga dapat memberikan aura positif dengan kedatangan kepala Sekolah dan duduk bersama orangtua dan siswa. Saya tidak melihat adanya “gap” diantara orangtua, siswa, pihak sekolah saat berdiskusi bersama, memberikan ide, bertanya, dan tentu saja sama-sama belajar. Sungguh pemandangan yang indah bukan?!

This slideshow requires JavaScript.

Siswa-siswi KPB menemukan hal baru untuk dipelajari, ilmu fisika dan penerapannya dalam kelistrikan. Seperti controller, IC, ACCU, inverter, daya, tegangan, arus, LED, dan masih banyak istilah lain. Sejenak saya berfikir, anak-anak ini kan sudah SMA, tapi sepertinya mengenal istilah-istilah itu merupakan hal yang baru. Kemudian barulah diakhir pertemuan saya menjawab pertanyaan saya sendiri, jika kelak mereka memahami ilmu fisika tersebut pastilah mereka akan lebih memaknainya karena mereka belajar mencari dan menjawab keilmuan itu secara sadar dan mandiri.

Kegiatan selanjutnya mendengarkan cerita mengenai kearifan lokal bersama Profesor Jacob Soemardjo, seorang guru besar dan pelopor kajian filsafat di Indonesia. Beliau bercerita mengenai budaya kita yang sebenarnya kaya, berbeda dengan barat yang menganut paham ‘kebenaran mutlak’, budaya timur menjunjung tinggi toleransi dan harmonisasi, menerima perbedaan. Tidak benar dan tidak salah melalui paradoks yang dikenal, “aing inya eta inya aing” atau kita lebih mengenalnya dengan istilah “tepo seliro”.

img_20170209_102051

Prof. Jacob bercerita tentang kearifan lokal

Dan ternyata, nilai-nilai filosofi budaya timur sudah ada jauh sejak zaman nenek moyang kita. Nilai-nilai itu tertuang pada motif kain tradisional (motif kain ulos), desain rumah adat (Jawa), alat masak (boboko), permainan tradisional (oray-orayan), bahkan kuliner tradisional (rujak bebek, colenak, ali agreng). masing-masing menggambarkan harmonisasi antara langit, bumi dan manusia. *jika tidak mengenal istilah diatas, silahkan cari dan pelajari ya… (^.^)

Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari alam semesta yang merupakan bagian dari sistem makrokosmos, kita sebagai sistem mikrokosmos terkadang tidak dapat menerima keberadaan energi metafisika yang maha besar. Untuk itulah kita sangat diharuskan menjaga keharmonisan alam semesta dengan menjaga lingkungan dan tidak merusaknya. Itulah kesimpulan terpenting yang Prof. Jacob sampaikan pada kami semua.

Terlepas dari nilai positif yang diterima pada cerita-cerita yang disampaikan beliau, yang menjadi fokus saya adalah mendengarkan cerita mengenai filsafat di usia sangat muda, tentunya dapat menjadi tonggak dari munculnya ide-ide atau gerakan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Berbekal hal tersebut, maka apa yang dilakukan oleh sekolah Semi Palar dengan pendidikan holistiknya, siswa-siswi KPB yang ikut serta dalam membangun kesadaran tersebut dengan keaktifannya dalam beberapa kegiatan di komunitas, seperti yang mereka lakukan di Desa Sekepicung patut diapresiasi.

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s