Bertumbuh Bersama Kelompok Petualang Belajar

Hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk mendampingi siswa-siswi KPB (Kelompok Petualang Belajar) Semi Palar. Sehari sebelumnya saya sangat gundah gulana, karena tidak terpikirkan apa yang akan dilakukan, saya akan berkegiatan dimana, bersama siapa, begitu banyak kecemasan.

Di pagi yang cerah, dengan membawa kekosongan dalam pikiran, saya ikut berkegiatan di Desa Sekepicung, di salah satu rumah warga yang disebut Rumah Mentari. Kami disambut oleh pemilik rumah, Pak Lala dan istri yang mempersilahkan kami berkegiatan disana. Ruangan yang dipenuhi rak dengan berbagai macam buku mengisinya, sayangnya saya belum sempat mengacak-acak ada buku apa saja disana.

Saya diceritakan oleh salah satu siswa, bagaimana mereka berkegiatan di Sekolah Mentari. Awalnya mereka disana saat terlibat proyek bersama beberapa fasilitator dan warga disana mengerjakan pertanian terpadu di Desa Sekepicung. Kemudian Pak Lala dan istri menggagas dan mengajak siswa-siswi KPB ini melakukan kegiatan di Rumah Mentari, ikut terlibat di ladang, dan mengajarkan anak-anak disana pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan kegiatan lain setiap minggunya.

Kegiatan KPB hari ini adalah berlatih mengerjakan soal aljabar dan logaritma Matematika bersama Bu Tini dari GSSI, salah satu aktifis komunitas dan penggagas pertanian terpadu di Desa Sekepicung. Saya datang dengan pikiran kosong, lalu dihajar dengan lima soal aljabar. Wow! Sudah berapa tahun lalu ya, saya melihat rumus-rumus itu. Melihat siswa-siswi KPB mengerjakannya, saya kembali mengingat materi yang sudah bertahun-tahun saya lupakan itu, dan pada akhirnya saya sungguh menadi fokus mengerjakan soal saya sendiri. (^,^)

Saya sangat takjub melihat proses belajar mereka, selama ini pengalaman saya sendiri belajar Matematika di kelas saat SMA dulu, berbeda sama sekali dengan saat siswa-siswi ini belajar. Serius tapi santai, dan mereka benar-benar memaknai proses pembelajarannya. Ada satu hal yang menyentuh saya, saat seorang siswa bertanya, “Bu, belajar logaritma buat apa sih?”, “Bu belajar ini bisa menentukan harga tanah 5 tahun ke depan ga?”. Sikap kritis seperti ini jarang sekali diajukan anak seusia mereka dalam ruang kelas. Bu Tini dan kakak pendamping menjawabnya dengan memberikan gambaran masalah yang nyata tentang penggunaan ilmu aljabar, maupun logaritma dalam pembangunan sungai dan sebagainya, sehingga justru memunculkan kesadaran dalam diri anak, “Oiya, saya butuh belajar ini!”.

Mengerjakan soal dilanjutkan setelah istirahat. Di waktu ini, saya memiliki kesempatan untuk mengobrol bersama mereka, sambil menyantap bekal makan siang. Saya mengajukan pertanyaan, “Kenapa kalian memilih masuk KPB?”, “Bagaimana respon orangtua kalian apakah setuju dengan keputusan kalian untuk masuk KPB?”. Jawabannya dari mereka sangat mengejutkan, dengan tawa dan canda mereka menjawab dengan tegas, bahwa masuk KPB merupakan keputusan mereka sendiri, dan mereka senang berkegiatan bersama KPB. Namun saya belum menggali lebih jauh lagi tentang alasan mereka memutuskan untuk berkegiatan bersama KPB.

Setelah sesi belajar matematika usai, ruangan yang dipakai KPB akan digunakan Ibu-ibu untuk berkegiatan menjahit, sehingga siswa-siswi berkemas dan berpindah ke aula masjid dekat dengan lokasi pertama. Satu hal yang menjadi catatan saya, dimanapun mereka berkegiatan, mereka tetap tertawa bahagia dan berkegiatan dengan semangat.

Dibagi menjadi dua kelompok K10 dan K11, masing-masing menyusun timeline untuk mempersiapkan pagelaran. Mereka berdiskusi dan membuat keputusan bersama secara mandiri dengan pendampingan dari kak Agni dan kak Leo. Disela-sela diskusi, saya merasakan aura belajar dan “bertumbuh bersama” siswa-siswi KPB, ketika membuat timeline, saya ikut memperhatikan kak Leo memberikan pelajaran tentang microsoft excel kepada siswa K10.

Mereka belajar dalam situasi yang ceria, beberapa siswa terlihat mempraktekan gerakan seperti silat ketika temannya yang lain serius di depan layar laptop. Ada siswa juga yang memberikan saya informasi tentang perbedaan penggunaan RAM dan processor pada komputer. Ada siswa yang membawa bangkai seperti lebah, lalu disambut dengan pertanyaan dari siswa lain, apakah itu lebah atau tawon. Ajaib! Ada yang memberikan jawaban dengan data yang dia baca dari ensiklopedia mengenai perbedaan lebah dan tawon.

Pertemuan pertama ini memberikan saya sedikit gambaran mengenai karakter kegiatan KPB dan karakter siswa-siswi KPB. Ada yang minat pada seni, musik, teknologi, desain, literasi, maupun broadcasting. Ini yang menjadi nilai tambah KPB, bahwa mereka yang terlibat mampu memunculkan minat dan karakternya melalui kebebasan bereksplorasi yang mereka miliki, namun tetap menjaga komitmen melalui berbagai project kelompok atau kelas, dan melatih kemampuan berjejaring dalam komunitas di usia muda.

Setelah sesi berakhir, saya memiliki kesempatan berdiskusi dan sharing serta memberikan feedback bersama kak Agni dan kak Leo mengenai proses pembelajaran hari ini, permasalahan yang ditemui, dan mengenai konsep unschooling itu sendiri.

Hari pertama ini saya mendapat oleh-oleh gambar ilustrasi yang dibuat oleh salah satu siswi, ketika dia menunjukkan gambar itu, sontak seluruh siswa-siswi yang ada di ruangan tertawa. Sungguh pengalaman yang jarang saya temui.

img_20170206_130604

ilustrasi oleh Lyan

Terima kasih untuk pengalaman yang berharga ini ya, tidak sabar menunggu keajaiban di hari berikutnya.

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s