Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 2)

Sebagai guru pre-school, saya tidak dapat menilai jawaban anak benar atau salah, karena setiap apa yang mereka ungkapkan, ada pengalaman yang bermakna bagi dirinya. -fifin-

Setelah membaca kembali cerita yang telah dipaparkan di bagian 1, cerita bagaimana ‘Mika’ tahu cara menggunakan mainan salon-salonan, bagaimana ‘Timur’ dapat aktif mengemukakan ide-ide yang ada dalam pikirannya, bagaimana ‘Hunter’ kemudian berusaha mencari dan melakukan kegiatan-kegiatan secara spontan dengan caranya, dan bagaimana ‘Gael’ bisa mengemukakan jawaban yang mungkin bagi orang dewasa lain terdengar konyol.

Siang sepulang sekolah, saat ayahnya menjemput, beliau bertanya kepada saya apakah benar ‘Gael’ tahu konsep kanan-kiri, beliau pun akhirnya memberikan informasi yang membuat saya bahkan lebih takjub lagi. Menurut ayahnya, ‘Gael’ tidak pernah diajarkan konsep kanan-kiri, tetapi setiap pulang sekolah, ‘Gael’ selalu menunjukkan arah kepada ayahnya yang sedang menyetir, “belok kiri”.

Kemudian ia juga menjelaskan mengapa ‘Gael’ menjawab bahwa dia potong rambut di bioskop. Ternyata menurut sang ayah, salon tempat dia potong rambut, disebrangnya terdapat bioskop. Mungkin yang lebih menarik baginya adalah bioskop yang dia lihat ketimbang salon saat dirinya berada.

Dari cerita dan jawaban yang saya dapatkan, bahwa anak sebenarnya mampu merekonstruksi pengalaman yang dia dapatkan dengan pengetahuan baru, dalam hal ini anak telah mengalami proses belajar secara mandiri.

Sedikit bernostalgia dengan teori constructivism milik Piaget, bahwa “pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif dimana terjadi proses asimilasi (penyerapan informasi baru dalam pikiran) dan akomodasi (menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru) sehingga terbentuk sebuah skema baru”. Ia mengartikan ‘belajar’ dengan proses membentuk pengertian atau pengetahuan secara terus-menerus. (Ruseffendi, 1988 : 132)

Berbeda dengan Piaget yang menekankan ‘belajar secara mandiri’, Vygotsky yang juga seorang tokoh konstruktivisme menyangkalnya. Menurut Vygotsky anak dapat mengkonstruksi konsep pengetahuan karena pengaruh lingkungan sekitarnya.

Kemudian muncul Ausubel dengan teori ‘belajar bermakna’ nya. Walaupun secara teori memiliki kesamaan, yaitu proses mengaitkan informasi baru dengan pengalaman seseorang, Ausubel menambahkan bahwa tahap perkembangan kognitif seseorang maupun cara atau kemampuannya dalam mengkonstruksi berbeda-beda tergantung pada kematangan intelektualnya.

Terlepas dari teori milik siapa yang diakui atau lebih baik, saya melihat adanya keterkaitan dari teori konstruktivisme milik Piaget, Vygotsky maupun Ausubel ini dalam perkembangan kognitif anak, yaitu ‘anak bukan sesuatu yang dipandang pasif, namun mereka memiliki tujuan’ dan ‘proses belajar aktif’ dimana terjadi interaksi antara faktor internal (kesiapan kognitif) dengan faktor eksternal (lingkungan) anak dalam proses belajarnya.

Dari berbagai literatur yang saya baca, dan beberapa teori di atas, kemudian muncul konsep dalam diri saya bahwa apapun jawaban anak, terlepas dari benar atau salah harus kita apresiasi, karena apa yang keluar dari tingkah laku mereka merupakan proses memaknai pengalaman melalui proses belajar dengan keterlibatan aspek kognitif, bahasa, motorik maupun sosial mereka. Sebagai guru, saya hanya butuh bertanya dan menggali, faktor dan sebab dari jawaban anak itu.

'belajar bermakna' dari sudut pandang pribadi

‘belajar bermakna’ dari sudut pandang pribadi

Berkaitan dengan perbedaan karakter anak, kesiapan kognitifnya, maupun budaya sosial mereka, maka proses belajar anak haruslah berbeda pula sesuai dengan aspek-aspek yang saya kemukakan di atas. Disinilah pentingnya differensiasi dalam proses belajar anak, yang dimodifikasi dari konten, proses dan produk yang dihasilkan sesuai dengan minat, kesiapan dan gaya belajar anak sehingga mencapai proses belajar yang bermakna.

bersambung ke bagian 3 …

Advertisements

One thought on “Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 2)

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s