Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 1)

Profesi sebagai guru pre-school, berinteraksi dengan anak-anak yang penuh imajinasi dan tak mudah diprediksi, bagi saya seperti hidup didunia fantasi. -fifin-

Sebut saja namanya ‘Mika’, anak perempuan cantik berusia 28 bulan dengan rambut hitam lebat dan ikal di bagian bawahnya, seperti Barbie. Suatu pagi, saya memperlihatkan mainan salon-salonan yang didalamnya berisi kaca, peralatan make-up, gunting, sisir, hair-dryer, lipstick, jepitan rambut, dan handphone (tentu saja semuanya terbuat dari bahan plastik mainan). Ia langsung menghampiri dan mengambil lipstick, ia berdiri menghadap kaca kemudian mengoleskan benda yang dipegangnya tersebut di bibirnya.

Setelah beberapa lama, ia kembali mengambil mainan lain, yaitu gunting dan hair-dryer sambil menghampiri saya, dan melakukan gerakan seolah-olah sedang menggunting rambut dan mengeringkan dengan mainan yang ia pegang.

♥ ♣ ♠ ♦

Sebut saja namanya ‘Gael’, seorang anak laki-laki imut berusia 31 bulan yang secara perawakan lebih kecil dari ‘Mika’. “Love-school” julukan yang cocok untuk dia, karena semangatnya datang ke sekolah, dan menolak saat saya, guru lain, bahkan orangtuanya mengajak pulang. Setiap pagi ia menunjukkan senyum lebarnya pada semua orang, dan tentu saja se-gunung pertanyaan telah ia siapkan untuk menikmati harinya, dan dia senang sekali membaca buku.

Suatu pagi saat Gael sedang bermain, dia mengatakan, “Yang ini di kanan, yang ini di kiri!” sambil memberikan mainan dinosaurus kepada temannya. Di pagi yang lain, masih dengan senyum lebarnya, ia masuk dan berdiri dekat pintu kelas dengan bangga memperlihatkan rambutnya yang baru dipotong. Saya mengawali harinya dengan bertanya, “Potong rambut dimana, kak?” Dia dengan tegas menjawab, “Di bioskop!” sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. Ayahnya yang saat itu berdiri menunggu di luar, tertawa terbahak dan kemudian pamitan kepada kami yang berada di dalam kelas.

♣ ♠ ♦ ♥

Sebut saja namanya ‘Timur’, anak laki-laki dengan rambut pendek dan poni lurusnya lima centimeter di atas alis, berusia 34 bulan. Di pagi hari yang damai, kami bermain mengelompokkan makanan sehat dan tidak sehat di kelas, setelah sebelumnya kami guru mengenalkan buah dan sayur sebagai makanan sehat dan makanan minuman kemasan berpengawet sebagai makanan tak sehat.

Ketika saya menggenggam satu minuman kopi kalengan dan menunjukkan pada anak-anak, dan kemudian saya mendengar celetukan, “Itu kan yang uat bapa-bapa.” Lalu saya mengeluarkan permen lollipop dan menunjukkan lagi pada mereka dengan sebuah pertanyaan, “Kalau yang ini makanan sehat atau bukan ya?”.

Masih ‘Timur’ yang menjawab, “Ukaaaaan” Saya melanjutkan pertanyaan, “Kalau bukan makanan sehat, boleh dimakan atau tidak ya?”. ‘Timur’ kembali menjawab, “Oleh” kemudian dia melanjutkan “api ga oleh banyak-banyak”.

Di suatu pagi yang lain, dia datang bersama sebuah buku ditangannya. Dia mengekor di belakang saya, sampai saya membalikkan badan barulah dia memperlihatkan buku yang dipegangnya, “api ini mirip bapa” sambil menunjuk cover bukunya. Saya mencoba mencerna perkataannya, dengan melihat gambar yang ada di sampul buku tersebut.

“Martin Luthernya mirip bapa”, dia menegaskan kembali sambil menunjuk gambar di sampul bukunya. Dengan penasaran saya bertanya, “Wah! Timur tau Martin Luther? Kok mirip sama bapa?” Dia terdiam sambil menatap lekat gambar di sampul bukunya dan kembali berkata, “api ini mirip bapa.”

♠ ♦ ♥ ♣

Dan, sebut saja anak laki-laki itu ‘Hunter’, ia seorang pemikir dan pemerhati dalam usia yang baru 26 bulan. Setiap hari, dia selalu menemukan ide-ide baru, walaupun bahasa verbalnya belum lancar. Pagi itu ketika saya menemani anak lain bermain di kelas, ‘Hunter’ berdiri di pojok kelas dan melihat kami dari kejauhan. Tidak lama kemudian terdengar suara nyanyian “naik kereta api,, tuut… tuut… tuut…” spontan saya menoleh ke arah sumber suara, saya sempat kaget, melihat ‘Hunter’ dengan tenangnya duduk di salah satu kursi yang sudah dia susun memanjang seperti kereta api.

Ketika pada suatu malam, saya dan partner berkunjung ke rumahnya dalam kegiatan Home Visit. Di rumahnya, dia menyanyi dan bermain bersama kami dengan bahagia. Anak ini tak banyak bicara, sehingga saya pun memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dia membongkar satu box mainan legonya, kemudian mengambil satu kardus kosong bekas mainan lain berbentuk balok setinggi perutnya, melipat dua buku gambar dan memasukkan ke dalam kardus itu, beserta semua mainan legonya. Saat kardus tersebut penuh, dan masih ada beberapa pasang lego di karpet, dia mengambil lego, dan mencopotnya menjadi bagian terkecil, sehingga semua mainan lego kini tak ada yang tersisa di karpet dan memenuhi tepat hingga ujung kardus.

Saya iseng menengok ke dalam kardusnya, dan saya tertegun melihat apa yang saya lihat. Kemudian dia menarik kardusnya dan meletakkan di balik pintu yang tertutup, tepat di pojok antara engsel pintu dan tembok. Dia membuka pintu, kemudian berlari menjauh dan berhenti tepat di pojok dimana dia bisa melihat ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Saya dan orang-orang yang ada di kamar saat itu spontan mengejarnya karena kami ketakutan dia akan menuruni tangga.

'Hunter' did it

‘Hunter’ did it

Saya berpikir, apa yang sedang dia lakukan, dan saya berasumsi bahwa dia sedang melakukan sedikit percobaan sambil terdiam di posisi tadi ‘Hunter’ berdiri.

 ♦ ♥ ♣ ♠

Empat anak diatas hanya beberapa dari puluhan anak yang memiliki karakter dan keistimewaan lainnya, saya selalu berusaha untuk melihat setiap anak memiliki keunikan yang selalu membuat saya takjub. Lalu, apa yang sekiranya anda pikirkan setelah membaca beberapa cerita diatas?

Saya akan memberi anda waktu untuk berpikir dan berasumsi …

bersambung ke bagian 2 …

Advertisements

2 thoughts on “Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 1)

  1. Pingback: Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 2) | fin's journal

  2. Buat aku, setiap anak kecil adalah penyihir…….pencipta imajinasi
    Selalu senang bersama mereka berenang-renang di lautan imajinasi 🙂

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s