Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 2)

Sebagai guru pre-school, saya tidak dapat menilai jawaban anak benar atau salah, karena setiap apa yang mereka ungkapkan, ada pengalaman yang bermakna bagi dirinya. -fifin-

Setelah membaca kembali cerita yang telah dipaparkan di bagian 1, cerita bagaimana ‘Mika’ tahu cara menggunakan mainan salon-salonan, bagaimana ‘Timur’ dapat aktif mengemukakan ide-ide yang ada dalam pikirannya, bagaimana ‘Hunter’ kemudian berusaha mencari dan melakukan kegiatan-kegiatan secara spontan dengan caranya, dan bagaimana ‘Gael’ bisa mengemukakan jawaban yang mungkin bagi orang dewasa lain terdengar konyol.

Siang sepulang sekolah, saat ayahnya menjemput, beliau bertanya kepada saya apakah benar ‘Gael’ tahu konsep kanan-kiri, beliau pun akhirnya memberikan informasi yang membuat saya bahkan lebih takjub lagi. Menurut ayahnya, ‘Gael’ tidak pernah diajarkan konsep kanan-kiri, tetapi setiap pulang sekolah, ‘Gael’ selalu menunjukkan arah kepada ayahnya yang sedang menyetir, “belok kiri”.

Kemudian ia juga menjelaskan mengapa ‘Gael’ menjawab bahwa dia potong rambut di bioskop. Ternyata menurut sang ayah, salon tempat dia potong rambut, disebrangnya terdapat bioskop. Mungkin yang lebih menarik baginya adalah bioskop yang dia lihat ketimbang salon saat dirinya berada.

Dari cerita dan jawaban yang saya dapatkan, bahwa anak sebenarnya mampu merekonstruksi pengalaman yang dia dapatkan dengan pengetahuan baru, dalam hal ini anak telah mengalami proses belajar secara mandiri.

Continue reading

Advertisements

Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (bagian 1)

Profesi sebagai guru pre-school, berinteraksi dengan anak-anak yang penuh imajinasi dan tak mudah diprediksi, bagi saya seperti hidup didunia fantasi. -fifin-

Sebut saja namanya ‘Mika’, anak perempuan cantik berusia 28 bulan dengan rambut hitam lebat dan ikal di bagian bawahnya, seperti Barbie. Suatu pagi, saya memperlihatkan mainan salon-salonan yang didalamnya berisi kaca, peralatan make-up, gunting, sisir, hair-dryer, lipstick, jepitan rambut, dan handphone (tentu saja semuanya terbuat dari bahan plastik mainan). Ia langsung menghampiri dan mengambil lipstick, ia berdiri menghadap kaca kemudian mengoleskan benda yang dipegangnya tersebut di bibirnya.

Setelah beberapa lama, ia kembali mengambil mainan lain, yaitu gunting dan hair-dryer sambil menghampiri saya, dan melakukan gerakan seolah-olah sedang menggunting rambut dan mengeringkan dengan mainan yang ia pegang.

♥ ♣ ♠ ♦

Sebut saja namanya ‘Gael’, seorang anak laki-laki imut berusia 31 bulan yang secara perawakan lebih kecil dari ‘Mika’. “Love-school” julukan yang cocok untuk dia, karena semangatnya datang ke sekolah, dan menolak saat saya, guru lain, bahkan orangtuanya mengajak pulang. Setiap pagi ia menunjukkan senyum lebarnya pada semua orang, dan tentu saja se-gunung pertanyaan telah ia siapkan untuk menikmati harinya, dan dia senang sekali membaca buku.

Continue reading