Sebenarnya Siapa yang Tidak Konsisten?

Saya hanya ingin sedikit berkomentar perihal penghapusan UN sebagai syarat kelulusan yang sedang dan akan selalu marak diperbincangkan. Tidak ada salahnya jika kita sedikit melirik ke belakang, seperti apa yang sedang saya lakukan sekarang, kembali membaca dan mempelajari dengan seksama dokumen kurikulum 2013.

Salah satu landasan empiris dikembangkannya kurikulum 2013, atau yang kita kenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi” disebutkan;

“Dewasa ini, kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak sering muncul di Indonesia. Kecenderungan ini juga menimpa generasi muda, misalnya pada kasus-kasus perkelahian massal. Walaupun belum ada kajian ilmiah bahwa kekerasan tersebut bersumber dari kurikulum, namun beberapa ahli pendidikan dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa salah satu akar masalahnya adalah implementasi kurikulum yang terlalu menekankan aspek kognitif dan keterkungkungan peserta didik di ruang belajarnya dengan kegiatan yang kurang menantang peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum perlu direorientasi dan direorganisasi terhadap beban belajar dan kegiatan pembelajaran yang dapat menjawab kebutuhan ini.” (hal 8)

Disebutkan bahwa kurikulum kita terlalu berpatok pada aspek kognitif, namun mengapa ranking prestasi pendidikan anak Indonesia masih setia pada posisi 10 besar terbawah dari 65 negara?

Continue reading

Advertisements