Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 4)

Pembicara terakhir Bincang Edukasi Meetup #7 ini adalah satu-satunya laki-laki yang ada di deretan nama presentator, ya! Beliau adalah Pak Ben Satriatna atau yang akrab disapa Kang Ben, direktur dari yayasan kalyANamandira. Sebuah komunitas yang berdiri tahun 1999 ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang muda yang kritis terhadap pendidikan yang kesemuanya adalah volunteer.

Terinspirasi dari seorang Paulo Freire, yang mengungkapkan bahwa “Pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia..” dan Chico Mendez, yang merupakan penyadap karet dari hutan Amazon. Keduanya memberikan pengaruh yang sangat besar pada perjalanan pergerakan rekan-rekan kalyANamandira, dengan slogannya “Pendidikan Masyarakat kritis.”

Konsep itu diaplikasikan melalui kegiatan “Rumah Belajar Samoja” dan “Pendampingan Anak di RuTan Kebon Waru”. Kang Ben mengungkapkan, melalui kegiatan ini, kalyANamandira memiliki cita-cita besar, yaitu “Bagaimana sebuah metode pendidikan dapat membangun pemikiran kritis dari anak didik.

 

 

Kegiatan Rumah Belajar Samoja sudah dilakukan dari tahun 2003, tetapi mulai efektif pada tahun 2005. Berbeda dengan RuBel Sahaja yang fokus pada anak jalanan, anak-anak yang belajar di RuBel Samoja bersekolah, namun kebanyakan drop-out sampai tingkat SMP, dan struktur ekonomi yang kurang menunjang.

Pada awal presentasi Kang Ben selalu menegaskan bahwa nasib mereka (masyarakat menengah ke bawah) bukan karena nasib dari Tuhan, tetapi ada struktur yang menyebabkan mereka seperti itu, dan beliau percaya yang bisa merubahnya adalah pendidikan.

Continue reading

Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 3)

Seorang wanita muda yang anggun dan enerjik sempat mencuri perhatian audiences pagi itu. Rahma Ainun Nisa atau yang lebih akrab disapa Ka’Inun, menjadi presentator ketiga pada acara Bincang Edukasi Meetup #7 dengan mengusung tema “Pendidikan Kreatif Anak Jalanan.”

Ka’Inun adalah Kepala Sekolah “Rumah Belajar (Sahabat Anak Jalanan) Sahaja“. Sahaja itu sendiri merupakan komunitas yang didirikan oleh seorang mahasiswi UPI, Bunda Ela Nurlaela dan Pak Gamestya pada tahun 2004.

Komunitas yang fokus pada pembelajaran untuk anak jalanan ini, sudah berlangsung dari bulan Juli tahun 2009 lalu. Berdirilah “Rumah Belajar Sahaja” yang diprakarsai oleh Ka’Inun dan rekan-rekannya, dan memulai proses pembelajaran pertama kalinya di daerah IP dan terminal Ciroyom.

Image

Image

Pembahasan menjadi menarik ketika Ka’Inun menceritakan kendala dan kondisi yang dihadapi selama proses di lapangan. Dengan mayoritas anak-anak jalanan, dan “nge-lem” pula, tentu saja, akan menjadi kendala yang sangat sulit bagi kawan-kawan fasilitator.

Ditambah lagi dengan ketidak-tersedia-an tempat untuk proses pembelajaran, sehingga berpindah-pindah tempat belajar sudah menjadi hal biasa bagi mereka, sangat fleksibel. Dan kini, mereka telah memiliki empat titik tempat belajar, yaitu di Cihampelas, Ciroyom, Pasar Cimindi, dan Dekat stasiun Cimahi.

Adapun kegiatan yang biasa dilakukan di RuBel Sahaja ini diantaranya, membaca-menulis-berhitung, mengaji Al-Qur’an, kesenian tari daerah, dan perpustakaan mini Sahaja.

Dengan bermodalkan rasa peduli yang begitu besar terhadap pendidikan anak jalanan, Ka’Inun dan rekan-rekannya masih menjalankan proses pembelajaran dengan semua kendala dan kondisi yang sudah penulis jelaskan di atas.

Seiring dengan perjalanan waktu, mereka pun menaruh harapan yang besar pada kegiatan yang mereka lakukan ini, yakni adanya keinginan untuk membangun rumah singgah, mendirikan program keterampilan terpadu, dan harapan terbesar Ka’Inun adalah tidak ada lagi anak jalanan.

Sungguh harapan yang besar… Dan selama komitmen, semangat, dan usaha yang dimiliki lebih besar dari harapan itu, maka tidak mustahil bisa diwujudkan.

Presentasi ditutup dengan perform dari anak-anak RuBel Sahaja yang membawakan sebuah tarian tradisional. Perform anak-anak itu mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari audiences. Ini membuktikan, bahwa anak jalanan pun memiliki potensi besar untuk bisa merubah kualitas dirinya menjadi lebih baik dengan belajar. \(^.^)/

Image

Image

photo credit by finfin

Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 2)

Ibu Luna Setiati, seorang penggagas Chiekal Creative Learning tampil sebagai presentator kedua dalam acara Bincang Edukasi Meetup #7. Pada presentasinya, beliau mengangkat tema yang menarik, “Belajar Menjadi Kreatif dan Imajinatif Melalui Rupa dan Kata”.

Chiekal itu sendiri merupakan tempat dimana anak-anak bisa bermain sambil belajar. Kegiatan belajarnya dikemas sedemikian rupa, dan lebih menekankan pada perkembangan daya imajinatif anak, melalui berbagai metode seperti menggambar, bercerita, olah tubuh, bunyi dan rupa.

Image

Image

Ibu Luna sendiri sangat meyakini bahwa belajar melalui menggambar, mempunyai kekuatan yang cukup efektif untuk menyampaikan sebuah pengetahuan pada anak, karena materi disampaikan melalui sebuah pengalaman yang imajinatif. Tujuannya bukan hanya sekedar membuat anak menjadi terampil menggambar, namun lebih dari itu, adalah kemampuan anak dalam mengungkapkan ide dan problem solving.

Saya sangat tertarik dengan analogi yang beliau ungkapkan, “mana yang lebih baik, belajar seni atau belajar Matematika?”. Beliau menekankan bahwa berbakat atau tidak, anak harus belajar seni, untuk membina kreatifitas dan kepekaan mereka. Berbakat atau tidak, anak juga harus belajar Matematika, untuk membina kemampuan berfikir logisnya.

“How much they know? How to use their knowledge?” menjadi indikator yang sangat penting untuk mengetahui potensi pengetahuan yang anak miliki.

photo credit by finfin

Smart Saturday – Pertemuan Santai Berwawasan Edukatif (part 1)

Boemi Nini Edupreneur Center yang berlokasi di Jl. Punawarman No.70 Bandung, suasana pagi ini ramai dan hangat, bagaimana tidak, kawan-kawan pemerhati dan penggerak pendidikan berkumpul dalam acara yang bertajuk Bincang Edukasi Meetup #7.

Bincang Edukasi adalah acara dua bulanan yang dilaksanakan di beberapa kota, yang mewadahi diskusi-diskusi mengenai topik dan tren paling baru di dunia pendidikan.

Pada kesempatan kali ini, ada 4 orang pembicara yang mengisi diskusi. Nia KurniatiRahma Ainun Nisa, Luna Setiati, dan Ben Satriatna. 

Acara dibuka oleh Mas Kreshna, menjelaskan mengenai apa itu Bincang Edukasi, diselingi dengan pembahasan presentasi kelulusan Indonesia, yang menurutnya bisa membawa Indonesia menjadi negara adidaya. (>.<) Lalu dilanjutkan dengan presentasi singkat namun padat dari setiap pembicara.

Pembicara pertama, adalah seorang pengajar di SMPN 11 Bandung, seorang guru yang kreatif dan berdedikasi tinggi dalam dunia pendidikan, Ibu Nia Kurniati. Beliau berbagi tentang Student Centered Learning yang diterapkannya di sekolah tempat beliau mengajar.

Continue reading