Antara “logis” dan “kritis” Yang Beda Tipis

Sebetulnya tulisan ini tidak sengaja saya buat, karena idenya muncul secara tiba-tiba..

Berawal dari kepulangan saya ke kampung halaman. Kedatangan saya disambut meriah oleh suara berisik adik yang duduk di kelas 5 SD. Begitu saya datang, dia langsung menceritakan bahwa dia masuk ranking 10 besar, segera saya sambut dengan pujian, dan dia pun senang.

Kemudian dia memperlihatkan hasil ulangannya, dengan bangga dia berkata, “teteh, ieu mah meunang Fandy sorangan, teu di bejaan ku sasaha..” (^.^)’

Waktu dia memperlihatkan kertas ulangannya, saya tidak begitu ngeh karena yang saya lihat hanya nilai yang tertera di kertas itu saja. Sampai dia menceritakan sesuatu yang lucu pada saya…

Fandy : “Teh, ai lomba karapan sapi teh berasal timana?” (kak, lomba Karapan Sapi berasal dari mana?)

Saya : “Madura. Kunaon kitu Di? Kamu salah?” (Madura, kenapa memangnya, Di? Kamu salah?)

Fandy : “Ndi mah bener, tapi babaturan aya nu ngajawab Iting.” (Ndi jawab betul, tapi teman ada yang menjawab ‘Iting’) Sontak saya, Mamah, dan adik tertawa terbahak-bahak.

Saya : “Naon Iting teh?” (‘Iting’ itu apa?)

Mamah : “Eta, tukang sate Iting nu di hareupeun pasar!” (itu, tukang sate ‘Iting’ yang jualan di depan pasar)

Gubrakkkkss!!! Saya memutar otak… Maksudnya? Saya belum bisa menangkap esensi cerita adik dan mamah.

Karena rasa penasaran, saya mulai memeriksa satu-persatu kertas ulangan itu. Pada pelajaran IPS, memang ada salah-satu soal essay, dengan pertanyaan;

Pertunjukan Karapan Sapi berasal dari……

Untuk anak kelas 5 SD, tentu soal seperti ini belum mengundang kekritisan, yang mereka lakukan adalah menghafal. Jelas saja, karena mereka hafal, ya jawabannya “Madura“. Padahal jika kita cermati lagi, bisa saja ada yang menjawab, “televisi”, “kampung nenek saya”, dan masih memungkinkan jawaban lainnya, seperti yang terjadi pada jawaban teman adik saya itu yang menjawab “Iting”.

Kita tidak seharusnya menyalahkan jawaban anak itu, kenapa? Karena dia menjawab berdasarkan logika-nya. Mungkin yang terpikir olehnya saat menjawab soal itu adalah SAPI-nya, bukan pertunjukan KARAPAN SAPI-nya. Atau mungkin dia tidak faham apa yang dimaksud dengan KARAPAN SAPI…

Soal-soal yang ambigu juga saya temukan pada pelajaran PKN, pada soal Pilihan Ganda;

“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, artinya Indonesia terdiri atas …”

a. Pulau Sabang dan Kota Merauke

b. Pulau Jawa dan Sumatera     

c. Pulau Sumatera dan Pulau Papua             

d. pulau-pulau yang sangat banyak

Yang mana coba jawabannya

Satu lagi pada soal essay;

“Sebutkan 3 contoh sederhana yang bisa kalian lakukan untuk turut serta menjaga keutuhan Indonesia!”

Gila!! Anak SD udah disuruh mikir negara!! Bo ya, kenapa ga dikasih soal yang lebih familiar dalam kehidupan sehari-hari mereka…

Demikian pula saya temukan pada pelajaran IPA, essay;

“Pohon pepaya, mangga, dan apel dikonsumsi manusia bagian …”

WHAT THE HELL QUESTION IS THAT

Adik saya menjawab “dalamnya“, dan kita bisa menebak, jawaban itu salah. Mungkin jawaban yang dimaksud adalah “buahnya“. BUT, COME ON!! ITU SOAL AMBIGU BANGET!! bisa berarti “bagian mana dari buah tersebut yang bisa dimakan oleh manusia” atau “manusia bagian mana yang bisa memakan buah tersebut“. AM I WRONG?!

Saya sedikit terperanjat saat melihat sola ulangan Bahasa Sunda. Anak kelas 5 SD sudah belajar tulisan Sunda Kuna. Gila!! GUE AJA, BARU BELAJAR HURUF HANACARAKA KELAS 2 SMP!!

Soal sejenis (yang membingungkan) saya temukan juga pada pelajaran B.Inggris seperti yang terlihat pada foto berikut;

Pada soal no.9 seperti yang terlihat pada gambar di atas, “Irvan Bachdim wears …” Pake apa Irvan Bachdim?! Semua jawaban bisa jadi benar!! Saya belum ngeh,  sampai  saya melihat ada sebuah gambar kecil di atas soal tersebut (yang menurut Guru itu adalah gambar Irvan Bachdim). Owh, OK!

Kenapa juga gambarnya ga gambar Irvan Bachdim yang asli, terus simpan gambar itu di sebelah pilihan jawaban. Kan JELAS!! GA ADA WAKTU UNTUK NGEDIT SOAL, ATAU JANGAN-JANGAN IBU/BAPA GA BISA MAKE KOMPUTER APALAGI INTERNET?!

Pada soal no.19 disitu tertulis “Snake and Ladder needs …” (lagi-lagi saya pengen teriak) WHAT THE HELL QUESTION IS THAT!!

Jika saja pertanyaannya diganti menjadi “If we play Snake and Ladder, we need …” atau biarkan saja nama permainan tradisional dalam bahasa aslinya “Ular Tangga”. Sepertinya itu terdengar lebih bersahabat untuk anak kelas 5 SD yang notabene sekolah di desa.

Nah, kawan-kawan, itulah mengapa kita yang bergelut di dunia pendidikan, harus benar-benar cerdas. Untuk apa assessment, apa tujuan dari setiap butir soal atau keseluruhan soal yang kita berikan pada siswa, apa yang menjadi goal dari Guru atau institusi pendidikan itu sendiri, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh siswa, harus benar-benar dicermati.

JADI GURU ITU HARUS KREATIF, INOVATIF, DAN EFEKTIF.

-Salam edukasi-

Advertisements

One thought on “Antara “logis” dan “kritis” Yang Beda Tipis

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s